villa di puncak

villa bali

Perpustakaan Beralih ke Digital

Mohamad Djaenudin February 9, 2012 0

Perpustakaan selama ini identik dengan satu ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku dan informasi tertulis, baik koran, majalah, maupun jurnal. Seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya perkembangan dunia digital, dunia perpustakaan juga ikut berubah. Digitalisasi pun sudah menjadi bagian perpustakaan masa kini.

Menurut Sri Hartinah, kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, digitalisasi perpustakaan sebenarnya sudah berkembang  dan digunakan di sejumlah perguruan tinggi dan lembaga penelitian sejak tahun 2000. Sayangnya peran perpustakaan digital itu belum besar di masyarakat. Pengguna perpustakaan digital masih terbatas kepada peneliti dan akademisi.

Untuk memopulerkan perpustakaan digital ke masyarakat, kata Sri, pihaknya sedang mengembangkan sistem komputerisasi yang mampu mendukung konten perpustakaan digital Indonesia. Dengan pengalaman yang dimiliki, pusat dokumentasi dan informasi ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kini sedang membuat aplikasi sistem tersebut yang disebut aplikasi buku tiga dimensi.

Dikatakan Sri, dengan aplikasi tersebut diharapkan masyarakat bisa mengakses informasi ilmiah dan tidak hanya terbatas pada peneliti maupun akademis saja. “kami tidak hanya mampu mendiseminasikan informasi ilmiah yang ada, melainkan juga mampu mengemas informasi tersebut dalam kemasan yang dapat diterima dan mudah dicerna oleh masyarakat luas,” ujar Sri.

Menurut Beni Rio Hermanto, Kowledge Management Research Group ITB, pada dasarnya perpusatkaan digital mengubah konten secara digital. Tujuannya untuk memudahkan penggunanya untuk mencari buku atau produk yang diinginkan. Selain itu juga menghemat ruangan besar untuk menyimpan buku.

ITB sudah menerapkan perpustakaan digital sejak tahun 2000. Perpustakaan tersebut berisi karya ilmiah dan tugas akhir para mahasiswa SI, S2, hingga S3. Dalam setahun rata-rata 3.000 produk karya ilmiah produk dari mahasiswa wajib menyerahkan format digital tugas akhir mereka untuk disumbangkan ke perpustakaan digital ITB.

“Jika jumlah karya tersebut disimpan di perpustakaan konvesional, tentunya harus membutuhkan tempat yang luas, sementasa dengan perpustakaan digital, bisa di akses kapan  saja dan dimana saja. Namun kekurangannya, kita harus rela bahwa karya tersebut pada akhirnya bisa dikopi secara bebas,” ujar Beni.

Kata Beni, perpustakaan digital akan semakin mudah diakses khalayak luas jika sudah menyertakan jaringan internet sebagai sarana aksesnya, seperti perpuskaan digital berbasis WEB.

 Sementara itu, Putut Irwan Pudjiono, mantan ketua pusat Dokumntasi dan Informasi Ilmiah Pengetahuan Indonesia, selain memublikasikan kaya ilmiah, perpustakaan digital juga berfungsi sebagai penyimpanan data base aset-aset nasional, perpustakaan digital bukan mengubah sistem perpustakaan konvesional ke bentuk digital, akan tetapi juga memiliki yang lebih luas, seperti penyelamatan data, perkuatan data base semua aset nasional sehingga tidak diklaim oleh negara lain,” kata Irwan.

Sementara aplikasi perpustakaan digital juga sudah dilakukan oleh pemerintah kota pekalongan. Walikota Pekalongan Mohamad Basyir Ahmad, mengatakn, pihaknya telah membuat E-Library dan digunakan oleh seluruh masyarakat Pekalongan.

Saat ini perpustakaan tersebut baru berisi informasi lengkap tentang Pekalongan serta 35 buku tentang Pekalongan, dan bisa diakses secara online melalui digilib. Pekalongankota.go.id, maupun offline yang ada dalam jaringan batik-net. Jaringan tersebut bisa diakses oleh semua SKPD, Kecamatan, SMPN, SMAN/SMKN.

            “Perpustakaan tersebut baru kami bangun selama satu bulan dengan pendamping PDII LIPI. Kami juga membuat telecenter atau pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat bidang teknologi informasi dan komunikasi berbasis akses internet. Rencananya kami akan buat program tersebut hingga ke tingkat RW,” ujat Mohamad Basyir Ahmad.

Share on TwitterShare via email



Leave A Response »

http://invite4job.com