LIPI, SELENGGARAKAN BIMTEK PUSTAKAWAN

Wahid Nashihuddin July 12, 2012 2

Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) – LIPI  telah menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis (bimtek) pustakawan. Bimtek pustakawan  diselenggarakan selama 2 hari di PDII pada tanggal 9-10 Juli 2012. Adapun peserta yang diundang adalah para pustakawan, calon pustakawan, dan pekerja informasi di lingkungan LIPI yang berjumlah  sekitar 70 orang peserta yang berasal dari Jakarta, Bandung, Bogor, Cibodas, Serpong, Purwodadi, dan Bali.

Pembukaan acara diawali sambutan dari BOK, diwakili oleh bagaian Ortala, Bapak Budi Raharjo, dan dilanjutkan pengarahan dari Kepala PDII, Ibu Sri Hatinah. Materi pokok bimtek ini adalah tentang Penyusunan Daftar Usulan Pengajuan Angka Kredit (DUPAK) Pustakawan. Pokok materi acara ini disampaikan oleh Pustakawan Madya PDII yaitu Ibu Mulni A.Bachtar dan Bapak Agus Permadi.

Tujuan acara ini adalah untuk mensosialisasikan tentang prosedur dan tatacara pengajuan dan penilaian angka kredit pustakawan, baik pustakawan tingkat terampil, ahli, maupun madya. Yang mana dalam penyusunan angka kredit ini, pustakawan harus berpedoman pada DUPAK yang sudah tercantum dalam SK Menpan No.132/KEP/M.PAN/12/2002 dan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala BKN No.23/2003 dan No.21/2003 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya.

Konsep acara disajikan dalam bentuk workshop, diskusi, dan bimbingan teknis. Materi disampaikan secara singkat dan jelas oleh pemateri, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Apabila ada materi yang disampaikan kurang/belum jelas, peserta dapat langsung  mengajukan pertanyaan atau saran, sehingga terjadi diskusi interaktif.

Dari acara ini diharapkan para pustakawan LIPI dapat memahami dari setiap butir kegiatan yang tercantum di DUPAK, serta lebih kreatif dan inovatif dalam berbagai kegiatan kepustakawanan yang dapat mendukung kamajuan satuan kerja dan lembaga induknya.

Share on TwitterShare via email



2 Comments »

  1. Rahartri July 11, 2012 at 9:16 am - Reply

    Tujuannya memang baik. Tapi terlalu kaku dan saklek. Karena bagaimanapun.. kita & para penyusun JUKLAK, JUKNIS, DUPAK, atau apapun itu, adalah manusia biasa yang serba tak sempurna. Dengan pertemuan seperti ini seharusnya bisa menjadi ajang untuk menghimpun segala masukan, saran & permasalahan yang ada di lapangan agar bisa menjadi masukan bagi para penentu kebijakan termasuk masukan bagi para penyusun juklak, juknis tersebut .Tapi kenyataannya A harus A, B harus B dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan yang lebih menyedihkan adalah komentar peserta yang belum menjadi pustakawan ” …semakin tidak kepingin masuk fungsional pustakawan…”. Benarkah pustakawan adalah jabatan fungsional yang tidak nyaman atau bahkan menakutkan ???

  2. tamu July 27, 2012 at 7:29 am - Reply

    klo pustakawan hanya dipahami sbg jabatan fungsional emang susah, krn angka kreditnya njlimet, dan terkesan menyusahkan diri sendiri. padahal namanya aturan juklak dan juknis itu bisa direvisi kapan pun asal mau. udah njlimet, tunjangannya kecil, tambah repot. tp klo kita memahami pustakawan sbg profesi, siapa saja bisa jadi pustakawan, yang penting dia bekerja di perpustakaan, melayani pemustaka, memberikan jalan terang bagi pemustaka yang berada dalam kegelapan. pustakawan itu mulia sekali, seperti amal jariyah. ilmunya selalu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. semangat….!

Leave A Response »